Add to Collection
About

About

Published:
Karbala bukan fatamorgana. - Bahtera Jelang Karam (Apa Kata Dunia?)


Kalian Tengok Itu Ke Tengah Samudra
Melaju Bahtera Besar Bernama Indonesia
Oleng Dihantam Badai Limbung Diterjang Gelombang
Hingga Hilang Arah, Sesat Pula Tujuan
Begitu Banyak Lubang Di Lambung
Keropos, Air Masuk, Hanyut Semua Pelampung
Dengar Kerikit Tikus-tikus Asing Berkerumun
Tenang Kerikiti Lubang, Aman Dilindungi Hukum
Sabar Dan Cerdik Tikus-tikus Asing Mengerikit
Tahu Penumpang Gak Sadar Kapal Sedang Sakit
Virus Disebar, Penumpangpun Terjangkit
Hingga Terus Diadu Bulan Sabit Dan Kayu Salib
Lampu Padam, Mesin Tak Mau Bergerak
Merah Wajah Sang Nahkoda Menahan Teriak
Pulas Tertidur Para Pakar Pejabat Yang Hidupnya Enak
Mabuk Beasiswa, Tercuci Otak
Tak Jua Datang Bantuan Barang Seutas
Malas Berpikir, Ambil Jalan Yang Pintas
Berkeliling Mualim-I Menghiba Sambil Mengemis
Dan Selamat Datang Kapal-kapal VOC Imperialis
Mendengar Ledakan Polisi Berdatangan
Kutak-Katik Berkutat Di Bukti Dan Pelaku Di Lapangan
Mana Tahan Sumbangan Jutaan Dollar?
Diikat Erat Ba'asyir Demi Lambang Dan Pembenaran
Bila Runtuh Sekat Dinding
Kita Semua Kan Binasa
Mereka Menuding-nuding
Mereka Jugalah Biangnya
Oi..Mariam Tomong Dainang, Sinapang Masin (4x)
Kudengar Ratap, Isak Dan Tangisan
Penduduk Kapal Merintih Lirih Menahankan Lapar
Dengan Mikropon Nahkoda Berpesan:
"Buat Apa Tawakal, Pasrahlah Hanya Pada Pasar
Tuhan Hanya Membagi Musibah,
Pasar Berjanji Harta Kita Kan Melimpah"
Untuk Segera Dibagi-bagi Oleh Si Gila BI
Ke Para Maling Kurap, Sipit, Kotor, Berjuluk Debitor
Genit Berjalan Nona-nona Menor
Setengah Telanjang, Jinjing Tas, Gaya Khas Pesohor
"Seharian Belanja Si Nona Tampak Lelah,
Asyik Duduk Di Kafe, Ngapain Pulang Ke Rumah"
Lain Di Atas Lain Di Bawah
Pemuda Teler Main Curang Dikeroyok Napasnya Terengah
"Kami Berjudi, Demi Kejar Semua Mimpi,
Teman Kami Yang Lain Malah Sudah Menjual Diri"
Termenung Seorang Dengan Borgol Di Tangan
"Bagaimana Kami Tak Aniaya?
Anak Kami Minta Yang Kami Tak Bisa! Tapi Bagaimana?
TV yang Anak-anak Kami Dan Anak-anak Mereka Tonton, Sama!"
Putuslah Tali, Lepas Sudah Jangkar
Angin Berputar Kacaukan Buritan Dan Haluan
Tampak Olehku Tersisa Tiangnya Layar
Tertutup Ombak, Atau Bahtera Jelang Karam
Kering Sudah Ilalang
Mudah Sulut Kan Membakar
Bila Jati Diri Hilang
Merah Putih Tak Berkibar
OiMariam Tomong Dainang, Sinapang Masin (4x)
Bila Bayi-bayi Lahir Tumbuh Tak Bergizi,
Apa Kata Dunia..?
Bila Pasar Dan Investasi Menjadi Nabi,
Apa Kata Dunia..?
Bila Tikus-tikus Asing Tak Juga Dibasmi,
Apa Kata Dunia..?
Bila Nelayan Dan Petani Dianggap Anak Tiri Pertiwi,
Apa Kata Dunia..?
Bila Sampah Dikemas Dalam Hiburan Dan Berita,
Apa Kata Dunia..?
Bila Hampir Telanjang Semua Wanita,
Apa Kata Dunia..?
Bila Ulama Mengebiri Ajaran Agamanya,
Apa Kata Dunia..?
Bila Penguasa Tidur Seranjang Dengan Para Pengusaha,
Apa Kata Dunia..?
Bila Tentara Dicabuti Gigi Dan Nyalinya,
Apa Kata Dunia..?
Bila Polisi Tak Beda Dengan Pelacur yang Ditangkapinya,
Apa Kata Dunia..?
Bila Kita Dipaksa Patuhi Hukum Yang Melawan keadilan,
Sementara Kalian Pura-pura Tak Mengerti,
Hanya Duduk Diam Karena Takut Mati,
Apa Kata Dunia..?
Berdiri Di Tepi Jurang
Hembus Angin Menjatuhkan
Gelap Tak Kunjung Terang
Kisah Negeri Tak Ber-Tuhan
Oi Mariam Tomong Dainang, Sinapang Masin (8x)

Jika Sengaja Kau Abaikan ini,
Duduklah Diam!
Kaupikir Allah 'kan Mengubahmu..?!
Dan Surga Sudah Menunggumu..??
Duduklah Diam!
Karena Bukan Kau Yang Pertama Begini!
Duduklah Diam!
Karena Ku Tahu Kau Tak Sedang Lapar!
Aku Tak Pala Perduli Apa Yang Akan Dikatakan Dunia,
Tapi Aku Khawatir,
Bila Bahtera Benar-benar Karam,
Apa Yang Akan Dunia Lakukan Terhadapmu
Masih Ada Sedikit Waktu
Selamatkan

Lirik & lagu: Sam Rizal                                              
Musik: Adit Buj bunen al buse
Karbala bukan fatamorgana. - Sangkakala mulai dijinjing.
Karbala bukan fatamorgana. - Dasawarsa memburam asa.

Dasawarsa Memburam Asa.

Sepuluh tahun pasca sebuah perjuangan ternyata masih belum membuahkanhasil yang berarti. Sisa-sisa kisah tragedi yang belum tuntas dan masihsebuah tanda tanya besar hingga saat ini. Sampai kisah bab per babbongkar pasang para pemimpin gila yang silih berganti dan salingsengkarut. Carut marut degradasi yang semakin memburamkan kondisi dankrisis kepercayaan yang semakin hari semakin akut.

Belum lagi keletihan luar biasa terlepas dari pundak, mendadakterlontar sebuah kebijakan yang jauh dari kata bijak. Senyummenyeringai dari figur harapan dengan kebodohan luar biasamelenggangkan kata "naikkan". Dengan sigap bersembunyi dibalik posisisebuah strata dan menyalahkan yang menjerit yang bereaksi atas rasasakit.

Decak dan gelengan kepala mungkin sangatlah tidak cukup dilemparkansebagai jawaban. Terlebih bersikap menyikapi sikap kafilah berlalu yangbenar-benar meng-anjingi para pesakitan. Entahlah apa yang sedangterjadi dan menjangkiti pada kepala-kepala yang dipercaya sebagaisetengah dewa jelmaan. Inikah cara setengah dewa berperan? Sakit,.. yasepertinya kata ini lebih relevan.

Singgasana benar-benar sukses terduduki oleh kebodohan bernyawa.Benar-benar mengerikan membayangkan efek domino yang sebentar lagiberjalan, tanpa ampun membunuh perlahan setiap jiwa-jiwa yeng sedangmeregang nyawa.

Duduklah diam.
Dan sambut negerimu menghilang.

(Lirik: Adit Bujbunen Al Buse)