Ajeng
http://www.ajengkurniamusik.com
Di suatu kesempatan, Krisdayanti Berpesan "Kamu harus senantiasa senyum, sebelum kamu naik panggung dan bernyanyi."

Dan Kata-kata itu masih membekas dalam benaknya, seperti baru kemarin diucapkan oleh sang diva kepada dirinya, beberapa saat sebelum pertunjukkannya dimulai. Ajeng Kurnia Fajrin namanya. Mengawali pengalaman bernyanyinya dari festival nyayi di sebuah mal dan kejuaraan-kejuaraan tingkat sekolah. Saat menjuarai festival-festival tersebut, kesadarannya akan bernyanyi menyeruak dan ia pun tak ragu menjalani hidup menjadi seorang penyanyi. Lagu Mengapa Tiada Maaf yang dinyanyikannya di acara Permata Nusantara TVRI sekitar tahun 1997, membawanya dekat kepada Yuni Shara. Saat itu umurnya belum sampai 15 tahun namun bakat yang ditunjukkannya berhasil memikat para seniornya dan membuka kesempatan bagi dirinya untuk menjadi seorang penyanyi profesional. Saat beranjak SMA, hari-harinya diisi dengan melatarvokali para diva. Sebutlah, Vina Panduwinata, Yuni Shara, Reza dan tentunya Krisdayanti pernah mempercayakan Ajeng di berbagai kemilau panggung pertunjukkan. Sebagai penyanyi, Ajeng mempunyai kualitas vokal yang menarik, lembut namun mempunyai power™ yang mampu membuat segenap audiensnya terbawa dalam kesahduan alunan nada dan kata-kata.

Ajeng berhasil menunjukkan kemampuan bernyanyinya saat mengikuti 4th Shanghai Asia Music Festival tahun 2001 dan berhasil meraih the most outstanding potential artist. Sebuah prestasi yang mengagetkan, karena kompetisi tersebut diikuti oleh penyanyi-penyanyi terbaik di Asia, dan Ajeng berhasil membuktikan kualitas dirinya. Diakuinya, tanpa dorongan dari senior-seniornya tidak akan mungkin menjadi nyata. Besar pengaruh para seniornya dalam karir bernyanyinya, namun Ajeng tetap ingin dikenal sebagai Ajeng apa adanya.

Gadis yang pernah bercita-cita menjadi seorang psikolog ini, amat menyukai masakan rumahan dan tidak suka minum dingin, karena ia alergi dingin. Kesehariannya sangat sederhana, murah senyum, menyukai Manchester United, AC Milan dan Kung Fu Panda. Memang agak mengherankan, ia berkeras menjadi seorang penyanyi, walaupun dikeluarganya lebih dominan akademisi. Satu-satunya darah musik, yang ia ingat, mengalir dari kakeknya yang juga seorang penyanyi keroncong dan juga ayahnya sendiri yang suka mengiringi ajeng nyanyi dengan gitar. Penyuka Mariah Carey ini juga amat mudah bergaul, hal inilah yang membawa dirinya mempunyai banyak kawan yang tak ragu untuk mengajaknya bekerjasama dalam karir bermusik. Sebutlah para punggawa-punggawa musik Indonesia, Jimmy Manopo, Chris Pattikawa, Erwin Gutawa hingga yang terakhir adalah Dwiki Dharmawan kerap mengikutsertakannya dalam berbagai pergelaran musik dan albumnya sebagaimana ia menyanyikan lagu Dalam Sujudku di album album konser religi Anggito Abimanyu dan Dwiki Dharmawan di tahun 2008. Dan diawal 2009, ia bernyanyi bersama Pasha Ungu di lagu Kuingin Selamanya yang direlease dalam album Penguasa Hatiku.

Bagi seorang artis musik, mempunyai album adalah sebuah penanda eksistensi keberkaryaannya. Ajeng merilis album pertamanya ditahun 2004, yang diproduseri oleh anang dan krisdayanti di bawah bendera KD Record & Trinity Production dengan album yang berjudul Ajeng. Melalui album tersebut Ajeng dikenal sebagai pelantun lagu Jangan Pernah Tinggalkan Aku ciptaan Icha Jikustik. Sebagai pendatang baru, Ajeng berhasil meraih nominasi pendatang baru terbaik dalam ajang AMI Award 2004 dan nominasi pendatang baru terbaik mewakili Indonesia di ajang Anugerah Planet Muzik yang diadakan di Singapura.

Ia dikenal sebagai orang yang tak mudah menyerah, ditahun 2009 ini ia memulai kembali membuat album. Bersama Goodfaith Production, ia meramu beberapa nomor hits yang diambil dari beberapa composer muda seperti Sashillia DREW dan tentunya Icha Jikustik. Kali ini, ajeng juga menyanyikan lagu Pongky yang pernah dipopulerkannya bersama Jikustik, yaitu Saat Kau Tak Disini.